Buku ini cetakan kedua yang dicetak pada tahun 1928, saya temukan pada tahun 2017 di Surabaya. Harganya murah, cuma 20 ribu rupiah. Kisah yang diceritakan dalam buku ini sangat menarik, tak heran memenangi Pulitzer Prize. Umur buku ini hampir 1 abad. Buku yang paling tua yang pernah saya miliki. Tiap lembar kertasnya sangat tebal, setebal sampul buku tulis anak sekolahan, namun juga sangat rapuh. Saya menemukannya di belantara pasar Blauran, Surabaya. Buku ini terjepit di tumpukan paling bawah dari buku-buku yang mungkin tidak lagi dibaca oleh orang-orang. Kotor oleh tanah, sarang laba-laba dan beraroma tikus dan (maaf) pipis kucing. Yang pernah mengunjungi sektor buku bekas dari pasar Blauran di sekitar tahun 2015-2018 mungkin dapat membayangkan situasi yang saya maksud. Tapi bukan buku ini yang ingin saya bahas, melainkan buku lain yang diberikan sebagai bonus oleh penjual buku. Judulnya “Welcome To Felix the Cat”.


Felix The Cat sempat menarik perhatian saya karena sampulnya sangat tebal dan tidak ada nama penulis. Ketika saya buka, ternyata isinya tulisan tangan. Setelah saya bolak-balik dan baca cepat, saya menyadari bahwa ini adalah buku harian. Saya membiarkan buku itu dimasukkan ke kantong belanja saya.

Saya membaca separuh isi buku itu sepanjang perjalanan balik ke Jakarta. Setelah sampai di Jakarta, saya malah terbersit keinginan untuk kembali lagi ke Surabaya, mencari penulis buku ini.

Bersambung.