Saya dan saudara-saudara saya tumbuh di keluarga pengusaha yang ketat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak mereka. Bapak saya membolehkan apa pun selama hal itu terkait dengan sekolah. Pilihan atau keputusan-keputusan orang tua saya itu adalah hak mereka. Saya patut mematuhi mereka sampai saya diizinkan untuk mengambil keputusan penting sendirian. Namun saya menyayangkan satu hal yaitu betapa tidak sukanya orang tua saya terhadap video gim, apa pun bentuknya. Orang tua saya pastinya memiliki alasan tersendiri.

Saya dan kakak saya tidak pernah meminta konsol video gim kepada orang tua kami secara terang-terangan. Tapi kami masih bisa bermain di rumah teman/tetangga kami atau di rental video gim, kan? Tidak juga, orang tua kami juga tidak mengizinkan itu. Kami selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jangan remehkan rasa penasaran anak-anak yang sangat tinggi. Hal-hal yang berbau teknologi dan elektronik sangat menarik minat kami. Puncaknya, bapak saya marah besar saat mengetahuinya dan langsung menjemput kami di tempat kami bermain.

Dampak

Sejak kejadian itu saya tidak pernah benar-benar bisa menikmati bermain video gim.

Saya berusia 12 tahun saat bapak saya meralat sikapnya dan memberi saya kebebasan yang lebih longgar. Saya pindah ke lingkungan baru di mana saya bertemu anak-anak baru yang lebih mapan. Kebanyakan dari mereka memiliki konsol video gim di rumahnya. Meskipun bapak saya tidak pernah lagi melarang saya akan tetapi saya tidak pernah bisa menikmati video gim seperti dulu. Semacam ada perasaan tidak enak menghantui dan hal itu sangat mengganggu.

Jika sedang bermain video gim dengan teman-teman, saya lebih sering dijadikan bulan-bulanan karena saya sangat payah. Saat teman-teman berdebat tentang aturan-aturan dalam permainan tertentu, saya sudah malas mencernanya. Saya menjadi anak yang memiliki sifat kurang kompetitif, gampang menyerah, selalu mencari cara aman atau malas mengambil resiko dan tidak cukup kreatif dalam urusan strategi. Saya tidak lagi menyukai permainan yang melibatkan lebih dari 1 orang seperti sepak bola. Saya menyukai basket tapi saya tidak pernah suka bermain dalam tim.

Setelah tumbuh dewasa dan bisa menghasilkan uang sendiri, saya pernah mencoba menyewa konsol gim, dibawa pulang selama beberapa hari untuk melihat apakah saya dapat menumbuhkan kembali hasrat yang dulu. Hal itu ternyata sia-sia.

Akibat yang paling memalukan barangkali pendapat sok tahu saya yang menyatakan bahwa video gim bukanlah bentuk seni. Saya salah. Saya hanya kurang dapat mengapresiasi jenis karya yang satu ini karena bias dan trauma.

Kembali

Saya pertama kali bertemu istri saya pada suatu sore di tahun 2017, kenal lebih dekat 1 tahun kemudian dan akhir 2019 kami menikah. Buat saya hal yang paling mengejutkan dari dirinya adalah ia seorang gamer. Ia tumbuh besar di keluarga yang mampu membeli konsol video gim dan masih bermain gim sampai sekarang. Saat ia mempersiapkan pindahan untuk tinggal bersama saya, ia membawa serta konsol Xbox 360 dan sebuah Nintendo 3DS yang sistemnya terkunci dalam bahasa/aksara Jepang. Hati saya bergejolak. Saya tidak dapat menahan diri dan mencoba menjelajahi konsol genggam tersebut. Saya kembali menjelma seperti anak kecil yang penasaran akan dunia luas yang pintunya tidak lebih lebar dari 800 piksel. Dan yang paling penting, orang terdekat saya sekarang memahami dengan baik perasaan meluap yang saya alami itu.

Keputusan untuk memiliki anak juga mendorong saya untuk bereksperimen ulang dengan video gim. Kami kemudian memutuskan untuk merakit PC gaming. Dengan dukungan istri, saya perlahan dapat menumbuhkan kembali minat yang hampir 2 dekade telah pudar. Setelah setahun berlalu dan menamatkan judul-judul epik seperti What Remains of Edith Finch, Inside, Shadow of Mordor dan lainnya, saya dapat mengapresiasi video gim sebagai karya seni. Saya juga menyempatkan diri untuk mempelajari kultur dan perkembangan video gim yang selama ini saya ketinggalan banyak.

Sekarang video gim menjadi salah satu pilihan saya dalam mengisi waktu luang di akhir pekan. Tidak jarang saya bermain bersama keluarga. Video gim juga telah membantu saya melewati tekanan pada masa-masa karantina atau isolasi mandiri karena infeksi COVID-19. Video gim melatih saya untuk bergerak lebih kreatif, tidak mudah menyerah, mengembangkan kelincahan dalam berpikir dan memberi saya kumpulan emosi positif yang tidak saya dapatkan di media lain.

Menjadi Orang Tua

Keresahan orang tua zaman saya masih kecil mungkin berbeda dengan orang tua zaman sekarang. Video gim masih menghantui sebagai salah satunya. Sekarang di media massa mudah didapati berita-berita tentang seorang anak yang menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk membeli voucher gim. Di lingkungan tempat tinggal saya sendiri dapat ditemukan anak-anak yang nongkrong dengan telepon genggam masing-masing dan menghabiskan waktu sepanjang hari tanpa pengawasan. Video gim pada anak-anak masih erat diselimuti isu adiksi dan minim pengawasan.

Keresahan macam apa yang akan saya hadapi di zaman anak-anak saya nanti? Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti namun saya harus siap beradaptasi apa pun itu. Inti dari tantangan ini barangkali bagaimana kita dapat melindungi anak-anak kita dari keresahan-keresahan itu tanpa membuat mereka tertinggal dari perkembangan zaman ataupun menghambat aspek-aspek tumbuh kembang mereka.

Saya dan istri saya sepakat tidak akan melarang anak kami bermain video gim. Saya akan membelikannya konsol video gim jika dia memintanya, barangkali sebagai bentuk apresiasi atas prestasi. Saya akan mengawasi dan menemaninya. Saya akan mengizinkannya mengalahkan saya dalam permainan, saya tidak keberatan. Saya akan membatasi screen time sesuai rujukan ilmiah terkini. Saya percaya video gim dapat memberi dampak yang baik dalam perkembangan anak bila kesempatan itu diberikan dengan batas wajar dan diawasi. Anak saya berhak menikmati karya seni ini jika dia mau.

Anak saya usianya belum satu tahun dan saya sudah membual tentang apa yang akan saya lakukan dengannya. Saya tahu ini tidak mudah. Tulisan ini akan saya kunjungi ulang sewaktu-waktu untuk membantu saya mengevaluasi apa yang telah saya lakukan di masa mendatang.