re.sign

Date: 2015/03/19
Categories: blog

Jika saya ditanya, mengapa saya berhenti dari pekerjaan sebelumnya? Saya mungkin tidak akan langsung menjawab, mesti merenung-renung. Sebelumnya saya sudah pernah mengundurkan diri dua kali dari sebuah pekerjaan yang jangka bekerjanya kisaran 1 sampai 2 tahun.

Yang pertama, karena pekerjaannya overwork. Saya sering lembur tanpa bayaran dan sulit mendapatkan cuti.

Yang kedua, saya berhenti karena menemukan pekerjaan yang prospeknya lebih baik, yaitu dikontrak secara internal di sebuah kantor pemerintahan.

Pekerjaan pertama dan kedua itu sama-sama pekerjaan yang saya senangi. Tapi saya salah untuk pilihan berikutnya. Prospek yang lebih baik belum tentu cocok untuk jati diri. Kadang kita mesti mengalah, merelakan sekian tahun umur kita untuk melihat dan mempelajari, dan kemudian menyadari dampak-dampak dari keputusan yang kita ambil. Saya menghabiskan 4 tahun untuk bagian yang ini.

Tapi akhirnya saya akan menjawab, saya berhenti dari pekerjaan sebelumnya karena tempat saya bekerja salah dalam menempatkan kemampuan dan keterampilan saya. Saya ingin pekerjaan saya menyentuh lebih banyak aspek dari sisi manfaat. Saya ingin pekerjaan saya menjadi lebih sukar dan menantang (bukan menumpuk) dari hari ke hari. Namun ketika saya ingin melakukan sesuatu yang besar dan bersifat perubahan, banyak sekali yang menghalanginya : birokrasi yang njelimet, kebiasaan organisasi yang sulit diperbaiki, kesalahan struktur organisasi, rantai komando yang timpang tindih.

Di sisi lain, tentu saja saya juga salah karena gagal (atau kurang usaha) mengatasi halangan-halangan tersebut. Lebih bersikap membiarkan.

Tapi saya juga berhenti karena saya tidak mampu mengejar standar disiplin yang ketat saat beban kerjanya tidak sesuai. Saat ini, kebanyakan organisasi pemerintah memang masih menilai pegawainya dari kehadirannya, belum melihat beban prosesnya.

Itu saja.

Wah, resign itu mudah dong? Tergantung. Tantangan eksternalnya adalah cemohan orang-orang di sekitar itu, bahkan dari keluarga sendiri. Kebanyakan dari mereka menyayangkan tentang ketidakpastian yang akan saya hadapi. Memang sempat membuat saya ragu-ragu. Dan setiap saya merasa ragu-ragu di detik-detik terakhir mengambil keputusan, saya memikirkan kembali tujuan-tujuan utama dari hidup saya dan mengapa tujuan tersebut sukar dicapai jika saya masih berada di zona nyaman.

Sekarang? Sekarang saya ada di Bogor. Merantau setelah belasan tahun merasakan kenyamanan kota kecil Mataram, Lombok. :)



>> Home