Buku-buku Tua

Date: 2015/06/07
Categories: blog

Sejak pindah ke ibu kota, saya beberapa kali menyempatkan diri untuk membeli buku bekas di Pasar Senen. Butuh sekitar 3 jam dari Bogor untuk tiba di sana. Sampai saat ini, saya baru mengunjungi tiga tempat penjualan buku bekas. Di dekat stasiun Pondok Cina, Pasar Senen, dan Pasar Senen Impres. Buku-buku yang paling menarik rasanya ada di Pasar Senen Impres, sekaligus buku-buku yang paling mengenaskan kondisinya. Di beberapa lapak di sana, buku-buku tersebut ditumpuk di atas alas kayu, kemudian ditutupi terpal seadanya. Tanpa atap peneduh hujan dan bau kencing kucing. Saya mendapatkan salah satu buku favorit saya dari tempat seperti itu. Ada juga beberapa tempat di sosmed dimana kita bisa membeli buku-buku bekas berkualitas bagus. Tapi membongkar-bongkar buku berdebu di lapak beneran lebih seru. Lebih berseni!

Setiap saya tiba di tempat itu (atau pun tempat lain yang menjual buku-buku bekas) saya tidak berhasil menyembunyikan wajah yang penuh rasa tertarik dan semangat (yang mungkin berpengaruh terhadap harga yang dipatok oleh penjual, “Wah ini anak kepengen banget. Naikin aja lagi harganya.”). Maksud saya, ya ampun, buku sebagus ini cuma lima belas ribu rupiah? Saya juga belajar seni membeli buku bekas (tentang bagaimana mendapatkan harga yang lebih murah dan hal lain tentang buku) dari kawan saya yang juga mengoleksi banyak buku klasik.

The Hobbit oleh JRR Tolkien, terbitan Unwin edisi keempat tahun 1983 “The Hobbit oleh JRR Tolkien, terbitan Unwin edisi keempat tahun 1983”

Namun ketika saya membayar buku-buku tersebut, timbul perasaan lain. Sebuah pikiran lain. Beberapa pertanyaan.

Mengapa pemilik sebelumnya menjual buku-buku itu? Apakah mereka kehilangan minat terhadap buku? Apakah kemampuan finansial mereka jatuh secara finansial kemudian terpaksa menjual habis semua buku mereka (saya pernah, seluruh koleksi keluarga)? Apakah mereka pindah rumah dan merasa berat hati membawa semua buku-buku mereka? Apakah buku-buku tersebut diwariskan kepada keturunannya yang sama sekali tidak menyukai buku kemudian buku-buku tersebut dijual? Apakah itu dari tempat penyewaan buku yang sudah bangkrut?

Jika nanti saya jatuh lagi secara finansial, apakah saya akan menjual lagi buku-buku saya? Jika saya punya anak dan mereka tidak menyukai buku, apakah saya rela mewariskan untuk mereka? Apakah saya cukup rela untuk mendonasikan semua koleksi? Apakah masih ada yang membaca buku-buku seperti ini?

Barangkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak penting untuk dijawab. Saya punya mimpi akan sebuah perpustakaan pribadi yang terbuka. Bebas dan gratis.

Dan yang terakhir. Misal, biarkan saja imajinasi saya sedikit ngawur. Ada naskah Mata Pusaran-nya Pak Pram di salah satu lapak yang dikelola oleh penjual yang kurang paham dengan buku, diletakkan ditumpukan paling bawah, di lapak yang paling kotor dan tak terawat. Naskah dengan halaman lengkap. Tanpa cacat huruf. Calon menjadi sampah oleh kondisi yang paling dimusuhi oleh buku; terik matahari, hujan dan pipis kucing.

Oke mungkin itu khayalan yang tidak bisa dimaafkan. Saya hanya berharap semoga para penjual buku bekas lebih memperhatikan kondisi buku-buku yang mereka jual. Jangan menyerah Pak Bapak!

Selamat malam Senin.



>> Home