Karena suatu hal dan hal lain, saya tidak menyebutkan nama tempat yang saya kunjungi kali ini. Biarlah tidak usah jadi mainstream. Biarlah tempat ini menjadi tidak ramai. Jika kamu merasa tahu tentang tempat ini, ya silakan menebak-nebak sendiri.
Tempat ini dikelola oleh Sembalun Development Community Center. Selain membayar restribusi, kami diberi kantong plastik untuk sampah dan beberapa peringatan lisan, tidak boleh ini dan itu. Sepertinya dikelola dengan baik. Terima kasih!
Terlepas dari definisi tempat ini (Gunung atau bukit? Kami sempat memperdebatkannya, hihihi.), jalurnya oke, sepertiganya nanjak 45 derajat. Lumayan buat menjajal sepatu baru yang bekas. Kami butuh 3 jam mendaki. Karena sedang musim panas, penuh debu. Pemandangannya? Oke pake banget. Bisa lihat gunung Rinjani secara bugil, dari atas sampai bawah. Plus panorama Sembalun. Bening. Suasana sunset maupun sunrise sama-sama worth buat ditungguin. Dari tempat ini bisa lihat laut juga. Suhunya dingin standar gunung. Di sana sini banyak tai sapi tapi sapinya sendiri tidak kelihatan. Ramai? Lumayan. Tapi katanya saat itu masih mendingan ketimbang saat ramai puncak (malam minggu di hari-hari non cuti bersama). Jadi saya rasa saya cukup beruntung. Kami hanya semalam di sini. Hemat waktu libur.
Hanya saja, bukit ini kotor sekali, sungguh. Banyak yang mengabaikan pesan kawan2 pengelola di bawah. Kotor karena tai sapi masihlah wajar, tapi sampah plastiknya tidak keruan, random sana sini, di tempat ngecamp maupun jalan setapak. Jadi saat turun, saya punguti sebisanya seperti biasa. Aktifitas memulung ini sebenarnya sungguh mengasyikkan sampai sepatu gunung The North Face yang dibeliin Estu dan saya pakai perdana, menginjak tai manusia yang masih hangat saat saya sedang mengambil botol plastik bekas. Baunya? Sama dengan bau tai saya sendiri, hanya saja yang ini gak cuma menusuk hidung, tapi langsung ke hati.
Tai! Siapa yang boker di pinggir jalan setapak ini? Dasar tai kamu! Saya jadi tahu kenapa ada botol air di dekat tai itu. Air dalam botol itu buat minum, bukan buat cebok, goblok! Terus kenapa bokernya di pinggir jalan setapak? Tai! Semua yang naik bukit ini dan ninggalin sampah, tai! Kalian semua tai! Yang ke sini cuma buat selfie terus buang puntung rokoknya di sini, tai! Hei kamu, tai! Kamu yang ngegaya pakai kaos natgeo tapi bakar-bakar plastik di sini, kamu tai! Heh kamu yang bela-belain bawa kertas buat ditulis “aku cinta kamu” terus kertasnya kamu buang di sini, tai kamu! Cinta macam tai itu! Dan kamu-kamu yang berhubungan intim di tendamu itu terus buang kondomnya sembarangan di sini, kalian taiii! Kampret bin tai! Alasan-alasan yang kamu bikin buat naik ke sini, tai semua itu, tai! Bukit ini juga tai! (Literally, banyak tai sapi). Saya juga tai! Blog ini juga tai! Pokoknya semuanya tai!

Hi, Pendix, kamu juga tai.
Saya terus marah-marah sampai di bawah (padahal mestinya tidak ada kolerasi antara sampah dan tai), cuma dapet sekantong plastik gede penuh sampah. Persisnya setelah nginjek tai manusia, saya otomatis berhenti mungut. Ndongkol atas ketololan saya sendiri.
“Mas dari mana?”
“Mataram”
“Berapa orang mas?”
“Cuma bertujuh”
“Banyak banget sampahnya ya?”
“(Tai! Ini saya mungut! Tai! Tai semua!) Oh nggak mas, mungut kok.”
Tolong, siapa pun kamu yang pergi ke tempat yang lebih tinggi dari batok kepalamu, pun tempat itu bukan milik kamu atau saya, tolonglah bawa turun lagi sampahnya. Sampahmu aja deh, gak usah yang lain. Tolong. Gak berat kok ketimbang beban hati kami-kami ini yang masih ingin melihat alam bebas yang bersih. Tolonglah.
Mudah-mudahan mas-mas pengelola tempat ini hatinya tegar bukit mereka jadi tempat sampah.
Dan yang terakhir, mohon maaf lahir batin.
>> Home