Ngesot Gunung Gede Pangrango

Date: 2015/07/31
Categories: blog

Dulu saya sempat berpikir untuk berhenti naik gunung, jadi kerilnya saya kasihkan ke teman, tendanya saya gulung erat-erat. Tapi ternyata itu cuma omong kosong.

Halo lagi,

Ini pertama kalinya saya :

Ini tentang gunung. Saya hanya pernah mendaki gunung Rinjani dan Tambora, jadi sudut pandang saya diambil dari pengalaman saya yang sedikit ini. Catatan ini ditulis dua bulan setelah pendakian tersebut, jadi ingatan saya tidak begitu jelas tentang beberapa hal, misal jarak tempuh dari titik A ke B itu berapa jam.

Saya belum sampai dua bulan berada di Bogor, satelit ibukota yang terlalu sering kehujanan dan nomor angkotnya membingungkan. Ini masih berkaitan dengan acara GnomeAsia2015 yang diselenggarakan di UI, Depok. Mas Yanuar Arafat ikut hadir di acara itu dan langsung nyeletuk ngajak nanjak Gede Pangrango, persis setelah GnomeAsia2015 berakhir. Butuh beberapa waktu buat saya untuk menentukan apakah akan mengiyakan atau tidak, terkait beberapa pekerjaan yang belum selesai, tapi akhirnya berangkat juga.

Saya packing kilat dan menemani Mas Yan belanja logistik kesana kemari. Saya belum pernah mempersiapkan pendakian gunung dengan daftar belanja yang serumit ini. Banyak, harus ini dan harus itu. Ini pasti jadi makanan yang enak di atas sana!

Diantar saudaranya Mas Yan, kami tiba di daerah yang bernama Seuseupan, mirip nama warung “Bakso Seuseupan” di dekat Btech. Kami disambut oleh Mang Koboi, penggemar sepeda kayuh dan alam bebas, yang juga membantu kami mengurusi surat-surat izin terkait pendakian. Saya tidak menduga aturan TNGGP seketat ini. Di Rinjani dan Tambora, mau nyusup tanpa lapor juga bisa (mungkin sekarang berbeda). Surat izin ini dicetak di lembaran khusus dengan mesin cetak dot matrik, menandakan urusan ini agak serius. Belakangan saya jadi paham mengapa.

Rumah Mang Koboi adalah rumah sederhana gaya lama, dikelilingi banyak sekali tumbuhan, dipenuhi perabotan lawas dari kayu padat. Ini. Ini pertama kalinya tumbuh keinginan saya untuk memiliki sebuah rumah (setidaknya, semacam dan sesederhana ini) dan berkeluarga. Di sini saya dikenalkan dengan Mang Ogi dan Mang Mandoe yang berdomisili di dekat gunung Salak, yang akan menemani kami. Sekarang kami berempat. Mang Koboi meminjami kami beberapa peralatan dan perlengkapan pendakian yang sangat berguna (terima kasih!). Terutama lampu illuminAid itu keren sekali. Mas Yan bilang mestinya ada tiga orang lagi, namun satu sedang cidera (Mbak Ocid) dan dua orang akan menyusul (Mang Cliff Damora dan Mbak Dian). Setelah nenggak kopi, malam itu juga kami cabut dari Seuseupan menuju desa Putri, salah satu pintu masuk menuju TNGGP.

Tetiba di pos pintu masuk, kami istirahat dan musti siap berangkat esok pagi atau siang. Esoknya saat bangun, saya sudah menggigil saja dan jadi luar biasa malas, menunggu matahari naik. Kemudian Mbak Dian tiba menyusul kami. Kami sekarang berlima.

Sebelum lanjut, mari saya beberkan beberapa kesalahan / pelanggaran saya terhadap peraturan TNGGP :

Untungnya, saya dipinjami jaket sama Tante Dian. Sebenarnya “Dipinjami” bukan kata yang bagus. Setiap pendaki mestinya mempersiapkan diri sendiri dengan matang.

Secara pribadi, saya lebih suka mendaki gunung dengan sepatu sandal. Lebih ringan dan ringkas, asyik dipakai lari. Saya terbiasa mendaki dengan sepatu sandal di gunung Rinjani dan Tambora. Tapi Gede Pangrango adalah gunung yang sangat berbeda di beberapa aspek. Gunung ini pendek, sangat dingin dan basah. Pokoknya, pelajaran penting : pakai sepatu, terutama sepatu hiking.

Ngomong-ngomong, kedua pelanggaran tersebut sebenarnya adalah hal serius. Gunung Gede Pangrango adalah salah satu gunung yang banyak memakan korban dikarenakan ketololan pendaki. Jadi, maafkan ketololan saya ini. :D

Kami mulai nanjak kira-kira pukul 10 dan saya mulai menerima kenyataan dari perkataan teman-teman sebelumnya bahwa jalur Gede Pangrango itu kebanyakan nanjak mulu. Tapi asyik!

Pada sore hari, kami tiba di Surya kencana, lembah kecil di antara deretan bukit dan gunung Gede. Sisi kiri (dari arah saya datang) Surya Kencana dipenuhi semak Edelweis. Surya Kencana adalah lembah yang indah, tapi ada yang lebih indah di atas sana.

Ngomong-ngomong lagi mengenai Edelweis, aturan di sini juga ketat. Dulu saya juga pernah memetik beberapa tangkai bunga Edelweis. Saat itu saya tidak tahu mengapa ini mestinya tidak dilakukan. Pendakian saya yang pertama dan kedua, saya masih memetik. Tapi pendakian saya yang berikutnya, saya sudah mulai paham mengapa. Eh, tetap saja saya sempat memetik buah gak jelas (yang ternyata tidak bisa dimakan) sesaat sebelum tiba di Surya Kencana.

Karena pernah melakukan tindakan kriminal ini dan pernah merasa tidak tahu atau terlalu bodoh untuk tahu alasannya, saya kurang setuju kalau mereka-mereka yang melanggar hal-hal semacam ini dibully, seperti yang sering terjadi di sosmed. Mending disapa dan ditegur pelan-pelan. Halooo. Petik-memetik ini masih marak terjadi lho, termasuk saat saya masih berada di Alun-alun Suryakencana.

Lanjut deh.

Di Surya Kencana, saya dan Mas Yan (setelah sebelumnya doi dikalahin bule Korea) sempat bertaruh sut, yang kalah bawain keril yang menang selama 5 menit. Kami impas, sama-sama kalah sekali. Taruhan paling tolol yang pernah saya ambil. Capek banget bawa tas-tas itu. Kami bermalam di sini, di samping parit alami kecil yang airnya sedingin es dan bisa diminum langsung. Sore itu kami menggelar tenda dan malamnya saya kedinginan seperti orang lemah. Saya cuma bisa meringkuk sambil menggigil. Malam itu terlalu dingin bagi saya jadi saya tidak membantu teman-teman membuat makanan. Saat tulisan ini ditulis, saya masih kesulitan mengingat makanan apa yang saya makan malam itu. Hangat dan enak. Tidur tidak terlalu nyenyak karena dingin sekali.

Paginya, kami dibangunkan oleh alam, Mang Ogi tidur lagi karena belum cukup tidur, tenda yang satunya sempat tembus embun. Saya sudah mulai bisa beradaptasi dengan suhu dinginnya.

Kami packing agak siang, kemudian beranjak ke puncak Gede. Treknya biasa saja dan saya belum terkesan dengan puncak Gede. Puncak terbentuk sebagai tebing, seolah-olah setengah dari gunung itu terpotong dan ambrol. Di sini tidak terlalu aman karena tebing tersebut. Kita masih bisa mencium aroma belerang. Kami mengambil beberapa foto di sini sebelum beranjak turun ke Kandang Badak.

Trek turun ke Kandang Badak tidak terlalu jelas, terpisah dalam beberapa jalur, namun akhirnya menyatu (rombongan kami sempat terpisah). Setelah beberapa waktu, kami tiba di Kandang Badak.

Ramai sekali! Dan (seperti juga Rinjani) lumayan kotor. Kami sempat membersihkan sebindang tanah yang sedianya akan kami tempati untuk membangun tenda. Namun karena tidak puas (kotor banget), kami pindah lagi. Satu hal yang bikin saya terkejut di Kandang Badak adalah, toiletnya lumayan dan berfungsi penuh.

Kemudian datanglah Mang Cliff Damora. Tinggi dan ceking, lelah dan bersemangat. Mang Cliff sebelumnya sudah nyari-nyari rombongan kami, sudah naik ke Pangrango juga, tapi malah ketemu di sini. Setelah makan sore (atau malam?) dan bincang-bincang, tercetus ide untuk mendaki puncak Pangrango malam itu juga. Ini sebenarnya ide yang tidak oke karena cuaca saat itu tidak menyakinkan. Mendung gluduk-gluduk dan Tante Dian menggumam tidak setuju. Tapi saya sudah gatal-gatal pengen nanjak lagi. Maka berangkatlah kami : Mas Yan, Mang Cliff, Mang Ogi dan saya. Bu Dian dan Mang Mandoe menjagai tenda. Kami bawa tenda sendiri.

Di tengah perjalanan ke puncak, tiba-tiba hujan turun. Ini pertama kalinya saya mendaki gunung dan kemudian turun hujan di tengah perjalanan. Tapi persiapan Mang Cliff itu oke pake banget. Setelah menggelar “apa mungkin namanya” dengan sigap, kami berteduh dan nyemil sedikit, menunggu hujan reda. Setelah reda, kami lanjut.

Kami tiba di puncak dan kemudian…

Terpujilah ingatan saya yang lemah ini, sampai di sini saya kurang ingat betul. Kami ngecamp di pinggir pepohonan. Kalau tidak salah esoknya kami sarapan dengan makanan yang asin banget karena sama Mang Cliff satu balok keju dicampur dengan keju. Hahahaha.

Di sini saya menghabiskan sekitar 2 jam untuk bengong-bengong di Mandalawangi. Jauh-jauh kesana cuma bengong-bengong? Ya, memang itu “tujuannya”. Ini salah satu dari sedikit tempat yang saya tandai sebagai “mesti kesini lagi, mesti”.

Kemudian kami turun. Jumpa lagi dengan Mbak Dian dan Mang Mandoye. Lanjut turun ke arah Cibodas. Kaki saya (tanpa sepatu) tercebur di air panas. Berpas-pasan dengan dedek-dedek pulen (enggak ku sapa lho). Tante Dian sudah mulai terlihat tidak sehat. Jalan gelap berbatu. Daaan akhirnya sampai di cibodas. Berpisah dengan Teteh Dian, terus makan malam. Terus…

Saya kurang ingat lagi. Pokoknya seperti itulah perjalanan ini. Sampai jumpa lagi, O Gede Pangrango.

Foto?



>> Home