Sebenarnya saya mau langsung cerita soal kejadian kemarin. Namun karena saya belum pernah menulis tentang Wakijo, mari saya perkenalkan sedikit.
Wakijo
Saat Blek menyarankan agar saya membeli sepeda motor, saya bilang “tidak”. Sepeda kayuh saya saja gampang raib, apa lagi sepeda motor. Kadang-kadang saya berargumen klise tentang sepeda, pengaruh lingkungan dan sebagainya dan sebagainya pokoknya tahulah kemana arahnya ini.
Namun ketika hati saya sempat luluh, saya bertanya, sepeda motor macam apa?
Honda C70. Biar kalau sepeda motornya jatuh menimpa saya, gampanglah ngangkatnya. Biar kalau dibawa kemana-mana, lebih kecil kemungkinan saya dibegal. Biar kalau motornya mogok, besar kemungkinan saya dibantu orang lain di jalan, terutama oleh sesama pengendara C70, karena solidaritas pengendara motor tua, yah secara saya tidak mengerti apa pun tentang mesin sepeda motor. Ini hal yang sama sekali berbeda dengan mesin komputer. Sebenarnya poin terakhir ini membuat saya agak tertekan. Ini artinya saya mesti membantu pengendara sepeda motor yang sama dengan saya, padahal saya sama sekali tidak mengerti bagaimana memperbaiki mesin mereka.
Karena suatu hal dan hal lain yang terjadi di kantor saya tempat saya bekerja dulu, dan juga karena suatu kebetulan, saya akhirnya membeli sebuah sepeda motor. Honda C70 bekas. Ya iyalah bekas. Saya namai Wakijo, berdasarkan nama kecil teman saya, pemilik sebelumnya.
Saya sempat rutin memakai Wakijo untuk pulang pergi kuliah sebelum akhirnya saya pergi ke Ibu kota. Saya pikir saya sudah merawat Wakijo dengan benar, ternyata tidak juga. Wakijo saya tinggal titipkan di teman SMA saya.
Setelah beberapa waktu dan lewat beberapa perkara ini dan itu, sepeda motor tersebut tiba di Ibu kota. Dibawakan oleh Blek dan Ketupang dari pulau Lombok, melewati lebih dari 1.300 kilometer untuk dipertemukan dengan saya lagi.
Wakijo saya tunggangi lagi. Dirawat Blek. Terus saya tunggangi lagi. Diperbaiki lagi sama Blek. Rasanya siklus ini tidak pernah berhenti.
Anak Motor
Ketika saya pertama kali membaca Dilan, saya pikir saya juga bisa menganggap diri saya anak motor dan barangkali bisa mendaftar ikut geng. Tapi itu sebenarnya jauh sama sekali tidak relevan. Bawa sepeda motor saja masih gugup, apa lagi ngutak-ngatik mesin.
“Pitungnya tahun berapa mas?” | “Hah?”
atau,
“Mau pakai oli apa mas?” | “Terserah bapak aja dah, saya kurang ngerti.”
atau,
“Pak, motor saya gak mau jalan kenapa ya? Bisa diperiksakan sebentar?” | “Ooo itu katup bensinnya masih ke tutup, Mas”
Banyak sekali yang saya tidak ketahui tentang sepeda motor. Rata-rata kawan-kawan seumuran saya sudah diperkenankan membawa kendaraan bermotor sendiri sejak mereka SMP atau SMA. Saya baru bisa mengendarai secara teratur saat umur saya 22 tahun.
Di Mataram, Wakijo sering mogok di tengah jalan dan kata-kata Blek mengenai Biar kalau motornya mogok, besar kemungkinan saya dibantu orang lain di jalan tidak pernah terwujud.
Tidak sampai kemarin, di suatu tempat antara Bogor dan Depok Baru.
Saya berencana melakukan perjalanan dari Bogor ke Depok Baru. Sekitar 6 atau 7 kilometer dari stasiun Cibinong, Wakijo mogok. Saya sudah senyum-senyum sendiri. Saya coba buka tutup samping untuk ambil peralatan buat buka busi, eh peralatannya sudah raib.
Sambil agak putus asa, Wakijo saya geret. Mampir beli air mineral terus ditanyain sama yang jualan. Terus dipinjemi kunci buat buka busi. Habis businya dibuka, saya gak tahu busi ini mesti diapakan. Jadi saya masukin lagi terus kembaliin kunci.
Itu pertolongan pertama tapi menjadi tidak terlalu berguna karena saya terlalu tolol. Jadi saya berkonsultasi ke Blek. Kemudian rencananya kami akan bertemu di stasiun Bojong Gede. Saya tanya-tanya orang, “Jauh, Mas. 2 atau 3 kilometer.” Cek di Google Maps, wew, lebih jauh dari Stasiun Cibinong, mesti muter. Geret lagi. Baru setengah jam, jalan saya sudah tidak beraturan. Masih berapa kilometer lagi ya?
Kemudian saya disapa dari belakang. Seorang pengendara honda C70 modifikasi, stangnya pendek banget, gak sampai 60 sentimeter, rodanya gede. Keren pokoknya. Awalnya saya tidak begitu dengar karena mulutnya tertutup kain. Saya dengarnya, “Saya steping ya, Mas”. Saya kurang paham. Ternyata maksudnya saya mau didorong dari belakang sama dia. Saya bilang tidak usah, ngerepotin. Dia bilang tidak apa-apa. Ditanya mau kemana, saya bilang mau ke Stasiun Bojong Gede. Kalau tidak salah saya dengar dia mau lolos ke Depok juga.
Sampai di persimpangan ke Bojong Gede, saya bilang, sampai di sini saja ya. Tapi saya terus didorong. Sambil basa-basi ngobrol di jalan. Sampai di sebuah perhentian lampu lalu lintas, saya bilang lagi, sampai di sini saja ya. Tapi dia bersikukuh, saya terus di dorong lagi.
Terus dia mendadak berhenti dorong. Motornya mogok. Anjayyyy. Kayaknya muka saya sudah gak keruan karena malu.
Saya belum pernah merasa bersalah seperti itu. Sudah merepotkan, bawa sial pula ke yang bantu. Dia mengenalkan diri sebagai Awi (kalau tidak salah dengar). Awi buka tasnya dan keluarkan peralatan. Kunci untuk busi, kunci L, busi cadangan dan sebagainya yang bikin saya malu, gak bawa apa-apa buat urusan seperti ini. Ternyata setelah ganti busi masih gak mau nyala juga C70-nya si Awi.
Saya tambah merasa bersalah dan gak tahu mau ngomong apa.
Terus Awi nelpon temannya, suruh datang. Setelah temannya datang (Motornya bukan C70, tapi sama-sama motor tua, lebih besar, lebih keren. Entah apa), suruh dorongin saya lagi, ninggalin Awi. Buset.
Saya tambah-tambah lagi rasa bersalahnya. Habis minta maaf dan bilang makasih, terus didorongin lagi ke arah stasiun Bojong Gede, ninggalin Awi, sampai ketemu Blek. Hore, saya sudah merepotkan dua orang. Temannya Awi mengenalkan diri sebagai Usui (Yakin bener deh ini namanya, karena sudah dikonfirmasi oleh Blek). Basa-basi dikit sebelum pisah.
Ketika saya bilang saya tidak tahu harus membalas dengan apa kebaikannya Mas Awi dan Mas Usui, katanya saya bisa membalasnya dengan membantu orang lain yang mengalami nasib seperti saya sebagaimana saya dibantu hari itu. Katanya, kecil kemungkinan saya mendapatkan solidaritas seperti jika sepeda motor saya bukan sepeda motor tua.
Ternyata saya tidak harus mengerti mesin sepeda motor untuk membantu orang lain. Sip dong!
Terima kasih banyak, Mas Awi dan Mas Usui!
Fix It
Kemudian oleh Blek, saya didaulat untuk memperbaiki sepeda motor saya sendiri. WTF? Saya pikir Wakijo bakal diperbaiki lagi sama Blek.
Nantikan tulisan selanjutnya bagaimana saya memperbaiki Wakijo, dengan tangan saya sendiri. Mudah-mudahan masih ingat kemarin ngapain aja.
>> Home