Kamu duduk di peron 2, menunggu kereta datang, tak sabar pulang. Seperti kebanyakan orang, kamu sesekali memainkan ponsel pintarmu, mengecek surat elektronik dan sosial media. Disesaki kebosanan, sesekali memandang kanan kiri, sampai matamu menatap matanya. Mata seorang wanita yang tidak kamu kenal, yang balas menatap matamu, di seberang peron sana. Kamu melepaskan pandangan, namun sejurus kemudian kembali menatapnya. Hal yang sama yang dilakukan wanita itu. Saling tatap ini tidak sebentar, pikirmu. Kemudian wanita itu tersenyum sedikit. Kemudian keretamu datang menghalangi pandangan. Kemudian kamu lupa wajahnya.
Itulah pertama kali kamu bertemu dengannya, dipisah dua rel kereta yang berkarat.
Tidak penting, pikirmu. Tapi hal ini mengganggumu selama berhari-hari. Membuatmu menumpahkan kopi atau tersandung sesuatu saat berjalan. Siapakah dia?
Kamu duduk di peron 2, menunggu kereta datang, tak sabar pulang. Wanita itu di sana, di seberang peron. Kamu menatapnya, memandangi wajahnya, menunggu-nunggu sampai ia membalas tatapanmu.
Adakah aku lupa? pikirmu. Wanita itu balas menatapmu, dan tersenyum sedikit, sebentar. Kerongkonganmu tercekat. Kamu berniat membalas senyumnya saat keretamu datang, menghalangi pandangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kamu berharap keretamu terlambat. Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kamu dihinggapi rasa penasaran yang berlebihan.
Kamu berlari menyusuri trotoar, tersandung, berlari lagi. Pikirmu, jika kamu berlari lebih cepat, ada menit-menit tersisa, lebih banyak waktu untuk menatap wanita itu. Kamu tak sabar menunggu antrian, menempelkan tiket elektronikmu dengan tergesa-gesa, menyenggol petugas, dan kemudian berdiri di pinggir peron, gelisah.
Wanita itu tidak disana. Tidak juga untuk menit-menit selanjutnya sampai keretamu datang.
“Pak, tolong berdiri di belakang garis”, seorang petugas menegurmu dan kamu melangkah mundur. Dia tidak muncul hari ini dan hari berikutnya.
Hari berikutnya dan hari berikutnya
Hari ini dia muncul. Berdiri, menenteng barang belanjaan. Ketika kamu saling bertatap mata dengannya, kamu mencoba tersenyum. Dia tidak membalas. Hanya membuang pandangan, menunggu keretanya.
Adakah aku lupa? pikirmu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kamu dibuat gundah oleh orang yang kamu pikir kamu tidak mengenalnya. Kamu marah-marah sendiri.
Wanita itu kadang muncul kadang tidak. Jika muncul, ia memberikanmu kesempatan saling tatap yang tidak sebentar, kadang-kadang dengan senyuman (yang kadang-kadang juga kamu balas). Dan dalam tujuh minggu kamu mempelajari polanya. Bahkan setelah berminggu-minggu yang menjengkelkan ini, kamu masih belum mampu mengingatnya.
Ia selalu ada di peron 1, setiap hari selasa dan rabu malam, nyaris tepat saat kamu tiba di peron 2, setelah pulang dari kantormu. Hari jumat ia kadang muncul kadang tidak.
Jadi kamu menyusun rencana agar bisa pulang dari kantor lebih cepat di hari selasa dan rabu. Kadang-kadang kamu berpikir untuk membolos dan mengerahkan sehari penuh untuk menguntit wanita itu. Tapi pikirmu itu terlalu berlebihan, tidak baik. Kamu menyiapkan satu kamera dengan lensa yang baik. Kamu mengganti tasmu dengan yang lebih ramping, yang nyaman dibawa berlari. Kamu mempersiapkan semuanya. Jadwal kereta. Mengabaikan makan malam. Kabur lebih awal dari kantor.
Kamu berdiri di sana, di pinggir peron. Terengah-engah. Seharusnya dia muncul. Seharusnya dia ada di sini. Kamu mondar-mandir sambil mengawasi seberang peron. Kamu ragu, apakah sebaiknya menunggu di sini, di sisi peron yang sepi dan mengawasi peron seberang yang lebih ramai. Atau menaiki tangga, menyeberang dan menunggu di sana sambil berdesakan dengan orang banyak.
Kamu memutuskan tetep berdiri di tempatmu sekarang. Orang-orang berlalu lalang. Detik menyusul menit. Kamu sempat bimbang, “Apa yang kulakukan di sini?”.
Suara kereta dari kejauhan. Wanita itu muncul di peron seberang. Kamu mengambil kamera, mengambil gambar wanita itu sekali, kemudian berlari ke arah tangga.
Kamu sedang berjuang untuk pergi ke peron sebelah. Kamu bisa merasakan lantai sedikit bergetar ketika kereta yang akan menjemput wanita itu sudah tiba. Kamu menabrak satu, dua, tiga orang. Empat. Kamu tidak ingat lagi. Kamu tidak peduli.
Ketika kamu tiba di peron satu, kamu tidak bisa langsung mengetahui dimana wanita itu berada. Di gerbong berapa? Terlalu banyak orang. Terlalu panik.
Mendadak kamu menangkap matanya. Wanita itu berpaling dan menaiki kereta. Gerbong 4. Kamu marah sekali.
Kamu bergegas menyusulnya. Menabrak lebih banyak orang, membiarkan kakimu terjepit sebentar oleh pintu otomatis gerbong, dan bergabung dengan kubangan manusia dalam gerbong kereta. Semua berjejal. Semua sesak. Tapi hanya kamu yang panik.
Kamu melihat wanita itu bergerak ke gerbong 3. Kamu menyusulnya. Menerobos banyak orang. Memancing sumpah serapah yang tidak enak didengar. Wanita itu bergerak pelan, tapi kamu merasa kamu semakin jauh tertinggal. Kamu menyeberangi satu gerbong lagi. “Permisi. Permisi. Permisi. Maaf”. Kamu panik.
Mendadak langkahmu ditahan. Kamu marah. Namun lekas redam karena yang menahan dadamu adalah petugas kereta. Kamu berusaha mengatur nafasmu.
“Khusus wanita.”
Wanita itu bergerak pelan tanpa menoleh ke belakang, bergabung dengan orang-orang yang satu gender dengannya di gerbong khusus wanita. Lenyap. Hilang dari pandanganmu.
Kamu marah sekali. Kamu merasa bodoh sekali. Untuk apa semua ini? Kamu berdiri di gerbong yang penuh sekali dengan manusia, satu kereta dengan orang yang paling kamu cari dan benci, yang bergerak menjauhi rumahmu. Jauh sekali sekarang. Kamu sudah tidak hitung lagi, sudah berapa stasiun yang lewat. Kamu terlalu lama berdiri di situ. Merenungkan semua ini.
Wanita itu berutang penjelasan. Tentang tatapan mata yang tidak sebentar. Tentang senyuman yang kadang-kadang.
Ponselmu bergetar. Istrimu menanyakan kenapa kamu lama sekali pulang.
Kamu menghela nafas, menggigit bibir. Bingung.
Bersambung.
>> Home