Duduk atau tidak duduk

Date: 2015/12/24
Categories: blog

Ini bukan to be or not to be.

Saat saya pertama kali mengenal KRL atau komuter beberapa bulan yang lalu, saya mempelajari banyak hal baru. Tentang aturan-aturan, etika, kebiasaan, dan rahasia umum tentang transportasi publik ini.

Awal-awalnya dulu saya selalu berusaha untuk mendapatkan tempat duduk. Namun lama-kelamaan, saya memilih untuk berdiri. Begini :

  1. Jika ramai hanya ada 2 slot tempat duduk yang kosong, jangan duduk.
  2. Jika tidak ramai, hanya ada 2 slot, dan hanya saya saja yang berdiri di sekitar slot tersebut, silakan duduk.
  3. Ah, ribet. Pokoknya berdiri aja terus! Mentang-mentang masih muda! Saya tahan berdiri terus! Saya (mudahan) bisa tidur sambil berdiri!

Tapi ternyata, itu prinsip yang salah. Sekarang, saya kembali seperti dulu lagi. Kalau ada satu slot tempat duduk, rebut! That’s my spot! That’s my spot! Tapi dengan 1 syarat saja, perhatikan terlebih dahulu orang-orang yang berdiri di sekitar.

Mengapa saya berubah prinsip?

Karena saya pernah (namun tidak sekali) menemui situasi dimana tempat duduk sudah penuh, ada penumpang prioritas (bumil, tua renta, atau penyandang disabilitas) yang berdiri namun tak seorang pun beranjak berdiri untuk mempersilakan yang berhak untuk duduk dan saya TIDAK BERANI menegur siapa pun. Saya pernah melihat orang lain yang menegur, “Mas, mas, bisa kasih tempat duduknya buat Ibu ini tidak?”.

Saya tidak/belum berani menegur seperti itu. Saya takut yang ditegur bakal berpikir, “Kok saya? Kenapa bukan yang di sebelah saya? Kenapa bukan yang di sebelah situ?”. Saya ciken.

Ketika situasi seperti itu terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hati gundah tapi gak berani menegur. Macam jatuh cinta tapi gak berani mengungkapkan. Dan itu mengganggu sekali. Andai saja saya yang duduk di sana. Andai saja.

Jadi begitulah. That’s my spot! *sikut



>> Home