Wakijo dan Bapak Polisi

Date: 2015/12/24
Categories: blog

Saya berusaha merekontruksi kejadian ini tanpa menambah atau menguranginya. Hari ini saya ditilang oleh bapak Polisi atau penilangan kedua kalinya dalam hidup saya. Pagi itu saya mengendarai Wakijo menuju Stasiun Bojong Gede sambil dirayapi rasa gelisah karena terlambat masuk kuliah.

Saat melintasi rel kereta, saya mengamati seorang pengendara sepeda motor distop oleh bapak Polisi. Karena arus lalu lintas begitu macet, Wakijo melaju perlahan sekali dan saya bisa mengamati proses penilangan tersebut. Tapi ternyata itu bukan ide yang bagus karena mendadak saya saling tatap mata dengan bapak Polisinya. Ketika melewati bapak Polisi, saya juga distop.

“Sini, sini… Ini mesti digudangkan. STNK-mu mana? Sudah mati ini.”

Kesalahan saya adalah, tidak memperpanjang STNK Wakijo. Matek 09 15. STNK asli sudah dikirim ke NTB untuk diurus, tapi saya tidak kunjung juga menggosok nomor mesin dan rangka untuk dikirim ke NTB. Jadi saya sementara mengandalkan STNK fotokopian.

Bapak Polisi mengambil kunci Wakijo terus menyeberang ke seberang jalan. Karena bingung, saya ikut menyeberang. Ke warung kopi kecil. Di sana ada dua polisi lain yang lagi duduk-duduk. Tapi ternyata itu bukan tempat tilang. Tempat tilangnya agak jauh ke dalam, dimana berdiri seorang bapak polisi lain dan seorang pengendara sedang diinterogasi. Tempatnya lebih terisolasi.

Jadi selagi menunggu giliran, saya diajak ngobrol ngalor ngidul dikit sama polisi lain. Sempat diingatkan juga kalau fotokopi STNK hanya berlaku jika ada legalisir dari kepolisian yang bersangkutan. Haiyyaaa!

Saat giliran saya,

“Mau dibantu di sini atau mau ambil di Kepolisian Depok pas sidang?”

“Apanya pak yang diambil? Motornya?”, hati saya langsung doki-doki.

“Tidak. SIM saja yang disita.”

“Denda maksimal kalau disidang berapa, Pak?”

“Bisa 300 ribu. Makanya kalau mau dibantu sama kita, biar Mas tidak ditilang. Biar tidak usah ikut sidang.”

Saya agak telmi, bengong dulu baru paham. Tidak, saya mau nonton Star Wars. Kalau dipalak sekarang nanti tidak bisa beli tiket nonton.

“Tidak, Pak. Saya ikut sidang saja… Tidak apa-apa. Saya ikut sidang saja… Iya, pak, gak apa-apa.”

Enam kali bapak Polisi menawarkan bantuan tersebut. Saya jadi sedih. Saya mau marah tapi tidak bisa. Saya mau bilang brengsek tapi tidak tega. Mudah-mudahan saja bapak Polisi ini berubah, jadi orang baik. Saya juga mudah-mudahan jadi selalu orang taat aturan lalin. Dan mudah-mudahan Wakijo panjang umur, karena malamnya dia mogok total sehingga mesti dititipkan ke bengkel dan saya pulang dengan bergelantungan di pintu angkot.



>> Home