Kamu berusaha mengingat-ngingat bagaimana rasanya tidak repot memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran hidup. Kamu ingin ingat bagaimana rasanya tidak peduli terhadap siapa pun, terhadap apa pun.
Kamu hanya ingin bermain. Kamu hanya ingin berlari-lari kesana kemari tanpa tersandung (tapi akhirnya tersandung juga). Lutut lecet, rok kotor, omelan ibumu, permen, eskrim, teman-teman. Semua.
Ingatan-ingatan yang paling rabun ini membawa kamu kepada sebuah sosok yang sudah kamu lupakan tapi kamu berusaha atau berpura-pura tidak lupa. Kamu tidak terlalu yakin dahulu itu sebenarnya bagaimana dan kamu takut otakmu mulai membuat khayalan-khayalan versinya sendiri, yang mengikuti keinginanmu sendiri, yang membuat potongan-potongan ingatan menjadi lebih indah dari yang sebenarnya.
Tapi satu hal yang kamu ingat dengan yakin, bahwa sosok itu adalah orang ketiga yang kamu peluk dengan keinginanmu sendiri, setelah Ibu dan setelah Ayah.
Anak itu tidak banyak bicara. Dianggap aneh (kamu juga menganggapnya aneh) karena dia terlalu dekat dengan Ibunya. Maksudmu, dia tidak mengizinkan Ibunya meninggalkan dia di sekolah, atau dia akan menangis. Jadi Ibunya selalu duduk menunggu di taman sekolah. Ketika pertama kali mengetahuinya, kamu juga tidak merasa perlu untuk mendekatinya. Lagian, dia bukan dari golonganmu. Maksudmu, kamu dan teman-temanmu memakai rok sementara anak itu memakai celana, seperti beberapa anak yang lain.
Saat bermain, biasanya beberapa anak bermain secara berkelompok, namun anak itu selalu sendiri. Anak itu biasanya duduk tak jauh dari ibunya, memandangi anak-anak lain yang bermain bola sambil melahap kue-kue yang dibawa ibunya.
Anak itu bukan siapa-siapa sampai suatu ketika bola bekelmu (bola karet kecil yang dipantul-pantulkan ke lantai, dimainkan anak perempuan) bergulir ke arah anak itu. Kamu segera beranjak ke sana namun tidak berani mengambil bola karet itu dari kaki anak itu.
Maksudmu, dia aneh kan? Kamu takut terjadi sesuatu bila mendekati anak aneh.
Kemudian seorang Ibu menegur anak itu (kemudian kamu tahu bahwa Ibu itu adalah ibunya anak itu) agar mengambil dan mengembalikan bolamu. Kamu heran karena anak itu begitu penurut (kamu kadang-kadang bandel terhadap Ibumu sendiri).
Bola itu diambilkan dan diserahkan ke tanganmu. Tanpa mengucapkan terima kasih, kamu berlari meninggalkan mereka, kembali bermain dengan teman-teman sekelompokmu.
Kamu pikir semuanya baik-baik saja sampai ketika saat pulang, Ibumu tak kunjung menjemput. Sampai tersisa hanya tiga orang di taman sekolah : kamu, anak aneh dan Ibunya. Ibu itu bertanya kepadamu, mengapa kamu belum pulang. Apakah rumahmu jauh dan atau belum ada yang menjemput.
Kamu bilang biasanya kamu dijemput ibumu dan kali ini dia tidak datang-datang Kamu tidak bisa menyembunyikan wajah sedih.
Ibu itu mendekatimu, duduk di sampingmu. Anak itu juga ikut mendekat dan duduk. Kamu masih bersyukur karena Ibunya duduk di tengah-tengah. Setidaknya kamu tidak terlalu dekat dengan si anak aneh.
Ternyata Ibunya orang yang menyenangkan sekali. Jika kamu bertanya ini dan itu (kamu cerewet dan tidak bisa diam), Ibunya selalu menjawab dan itu membuatmu senang. Kemudian kamu merasa nyaman dan mulai bercerita tentang ini tentang itu dan Ibunya mendengarmu dengan antusias. Anak aneh itu hanya memandangmu dalam diam.
Kemudian Ibumu datang, kemudian ada sesi basa-basi ala ibu-ibu antara Ibumu dan Ibunya. Kemudian kamu diajak pulang.
“Dadah tante”, dan Ibu itu membalas lambaian tanganmu.
Saat sesampai di rumah, kamu ditegur dan diperingatkan Ibumu agar jangan terlalu dekat dengan orang tidak dikenal. Kamu tidak suka dan jadi marah. Butuh beberapa hari untuk menyakinkan Ibumu bahwa Ibunya anak aneh itu orang baik.
Kemudian hari-harimu menjadi lebih menyenangkan. Ibu itu baik, sering membagi kue (yang sedianya untuk si anak aneh), suka mendengarkan cerita-ceritamu dan suka bercerita yang bagus-bagus. Kamu suka.
Jadi kadang-kadang waktu bermain kamu habiskan duduk bertiga, dengan anak aneh dan Ibunya, ketimbang bermain bola karet.
Kadang-kadang, anak itu tertawa ketika ada sesuatu yang lucu dari cerita-ceritamu. Tapi kamu tidak begitu suka dia tertawa seperti itu, maksudmu, dia pura-pura mengerti atau apa? Dia kan aneh. Jadi kamu bertanya kepada Ibu itu kenapa anak itu aneh.
Ibu itu hanya tertawa kecil. Bilang bahwa anaknya (namanya Kemal) cukup pemalu dan terlalu takut bermain dengan anak-anak lain. Ibu itu bertanya apakah kamu mau membantunya. Kamu tanya bantu apa.
Meminta kamu menjadi teman anaknya, agar dia bisa bermain seperti anak-anak lain, agar Ibunya tidak harus selalu menungguinya di taman sepanjang jam sekolah.
Pertama kalinya kamu mendengar anak aneh itu tidak menuruti Ibunya, tapi kamu mengangguk. Kamu menggenggam tangan anak itu, berusaha tidak melepaskannya dan berteriak, “Ayo main!”
Selanjutnya, hari-harimu menjadi lebih baik lagi. Anak itu ternyata cukup menyenangkan. Ibunya dan Ibumu juga mulai berteman. Jika Ibumu terlalu lama menjemput, kamu akan diajak ke rumah Kemal (tidak jauh dari sekolah), bermain di sana dan menikmati makan siang, sebelum dijemput oleh Ibumu.
Hari-hari menjadi lebih menyenangkan lagi ketika akhirnya Kemal bisa mandiri. Jadi kamu sering berjalan kaki berdua dengannya, pulang ke rumahnya. (Kemudian kamu sering berharap agar Ibumu lebih baik terlambat menjemput saja, setiap hari kalau bisa). Dan yang paling penting, kamu tidak lagi menganggap dia anak aneh. Namanya Kemal, bukan anak aneh.
Kemudian hari-hari menjadi suram ketika kamu mendengar dari Ibu bahwa keluargamu akan pindah rumah. Kamu takut kehilangan dia, maka suatu hari kamu memeluknya dan membiarkan dia memeluk balik. Inilah ujung benang merah kenangan-kenangan ini.
Selepas TK, kamu dan keluargamu pindah rumah. Dunia baru. Teman-teman baru. Kisah-kisah baru. Masalah baru. Kamu tidak pernah berjumpa lagi dengan Kemal maupun Ibunya. Hidupmu serasa dibalik, seperti martabak. Namun tangisanmu saat itu adalah tangisan anak kecil, yang mudah menguap tergantikan oleh hal lain.
Kemudian ingatanmu terkikis, sedikit demi sedikit. Sungguh kejam o waktu. Kadang-kadang kamu membantah dirimu sendiri. Jangan lupa. Jangan lupa.
Saat SD, kamu masih mengingat nama dan wajahnya. Dan apa yang kalian lakukan saat kalian bersama. Banyak dari kebersamaan-kebersamaan itu tidak bisa diulangi dengan siapa pun, dengan anak-anak manapun.
Saat SMP, kamu sudah tidak ingat lagi namanya. Kadang kamu pikir kamu ingat, tapi sesaat kemudian kamu menjadi tidak begitu yakin. Namun, kamu masih merasa ingat wajahnya. Wajah oval. Bibir kecil. Rambut lurus. Samar-samar.
Saat SMA, masa-masa yang paling penuh kenangan dalam hidupmu sekaligus masa-masa yang paling kamu benci. Hidupmu dipenuhi cinta monyet yang baru. Pemberontakan-pemborantakan tak terduga. Orang tuamu bercerai. Gairah-gairah liar. Kamu nyaris tak ingat apa-apa kecuali bahwa kamu pernah berteman dengannya, pernah memeluk dirinya. Kamu pikir kamu sudah dewasa dan mulai merasa tolol karena masih berusaha mengingat hal-hal tidak penting seperti ini. Di sisi lain, kamu tidak ingin lupa.
Saat kuliah, sudah terlalu banyak yang membebani pikiranmu. Kamu ditinggalkan oleh orang yang kamu pikir dia pacarmu. Beasiswamu tersendat. Ibumu meninggal dunia. Kamu kehilangan krisis percaya diri dan mulai kesepian. Kamu memasuki dunia kerja dengan permulaan yang tidak begitu baik.
Sekarang, di sinilah kamu. Duduk di peron menunggu kereta. Matamu terpejam, kepalamu menggulung ingatan. Merah. Hijau. Dan kuning. Dan biru. Ada juga cokelat… Kamu ingat. Kamu pernah bermain warna dengan anak laki-laki itu. Entah itu permainan apa pokoknya sesuatu tentang warna. Kalian baru saja diajari mengenal warna dengan benar di kelas. Saat berjalan pulang, kalian mulai bermain dengan warna. Saling menyebut warna. Saling tertawa. Kamu tidak benar-benar ingat tapi kamu akhirnya tersenyum. Sungguh kenangan yang manis bukan?
Kemudian kereta datang, semua tersapu lagi.
Tapi kamu tidak menaiki kereta ini. Biarlah, pikirmu. Kamu ingin mengorek ingatan sedikit lagi. Masih ada beberapa kereta lagi sebelum kereta terakhir. Ketika kereta melaju pergi, ada sesosok orang yang membuatme terpaku, sesosok orang di seberang peron.
Ini bukan kebetulan kan? Kamu baru saja memikirkan seseorang dan dia sekarang muncul di depanmu. Itu Kemal bukan? Tiba-tiba kamu teringat namanya. Tidak salah lagi.
Kamu mendadak berdiri dan siap-siap berteriak memanggil namanya, tapi sedetik kemudian niat itu kamu urungkan. Sudah lebih dari dua puluh tahun kamu tidak melihatnya. Apakah benar itu wajahnya? Seberapa yakinkah kamu?
Apakah dia ingat siapa kamu? Tentu saja tidak. Kamu sendiri pun merasa kesulitan untuk mengingat potongan kenangan ini. Kamu duduk lagi, membisu. Kamu hanya memandangi wajahnya dari kejauhan, nyaris tanpa kedip. Kamu sungguh bingung. Sebentar-sebentar yakin, sedetik kemudian ragu. Memang dia orangnya. Wajah oval itu khas sekali. Bibir kecil. Rambut lurus.
Kemudian kereta di seberang datang, menjemputnya.
Malam ini mendung. Kamu sedang duduk di peron, dan orang itu juga ada di sana. Kamu belum berani menyebutnya Kemal. Kamu memerlukan konfirmasi. Jadi kamu mencoba memandanginya lama-lama. Berharap laki-laki itu menyadarinya dan memandangimu juga. Akankah ia ingat?
Ternyata itu usaha yang tidak mudah. Lelaki itu tak kunjung menyadarimu, sampai beberapa puluh menit kemudian.
Ketika dia akhirnya menyadari dan balas menatap matamu, kamu memberikannya senyum, dan mempertahankan pandanganmu.
Ingatlah. Ini aku. Ini aku.
Wajahnya menampakkan kebingungan. Dia mengalihkan pandangan selama beberapa detik kemudian mencoba melihatmu lagi. Akhirnya dia yakin kalau kamu memang sengaja memandangnya. Kemudian dia juga tersenyum, sebentar.
Kemudian keretamu datang dan kamu beranjak pergi.
Apa yang telah kamu lakukan? Kamu memandangi bayanganmu di jendela kaca kereta. Apa yang telah kamu lakukan?
Apakah Kemal masih sendiri? Timbul harap di benakmu sambil berusaha menutup-nutupi bekas luka yang belum lama hilang. Kemudian kamu mengukur-ngukur usia, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dan esoknya kamu sudah melakukan sesuatu yang tidak kamu percayai bahwa kamu melakukannya dengan mudah dan sekaligus membuatmu menyesal.
Kamu mencari informasi tentang Kemal (hampir dengan segala cara) dan mendapati fakta bahwa dia sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang berumur 2 tahun. Kamu nyaris putus asa. Tapi mengapa kamu tidak berhenti? Mengapa kamu masih membiarkan matamu menatap matanya? Mengapa kamu masih menyengajakan hal ini? Mengapa kamu masih berharap ia mengingatmu? Mengapa kamu tidak bisa bangkit dari keterpurukan ini?
Begitulah hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, kalian berdua saling bertatap mata selagi sempat, kadang-kadang saling bertukar senyum. Mengapa kamu masih melakukan hal bodoh ini?
Tidak sampai suatu hari dimana kamu mendadak menyadari bahwa dia sedang menuju ke arahmu. Sejenak kamu tidak bisa bergerak. Apakah ia kesal ditatap oleh ‘wanita yang tidak ia kenal’? Apakah kamu sudah bertindak terlalu berlebihan? Apakah ia marah? Apakah kamu bodoh?
Jantungmu berdetak kencang. Ini seharusnya tidak terjadi. Dia seharusnya tetap di sana. Kamu mulai berlari mengejar kereta yang perlahan melambat. Sesaat sebelum kamu menaiki kereta, kamu melihatnya di peron yang sama, sejarak satu gerbong. Kamu menerobos orang-orang yang berusaha keluar dari kereta. Kamu tidak peduli.
Ketika kamu sudah berada di atas kereta, kamu melihatnya dari jendela. Dia tidak menyerah, masih berusaha menyusulmu. Ketika kakinya telah menapak di gerbong, kamu membalikkan badan dan berusaha melawan kepadatan gerbong. Kamu pikir jika kamu berada di gerbong wanita, dia tidak akan berusaha mengejarmu lagi.
Kamu pernah melewati fase-fase sulit dalam hidupmu. Namun, dalam aspek fisik, tak pernah seberat ini. Menerobos ratusan orang yang berdesakan dengan panik. 3 gerbong. Menyulut kekesalan orang-orang. Kamu terlalu takut. Ketika tiba di gerbong wanita, kamu terus berjalan sampai di ujung gerbong, di belakang pintu masinis.
Kamu benar. Dia tidak menyusul. Kamu berdiri dalam diam, membiarkan pergerakan lampu-lampu kota dari jendela kereta menenangkan dirimu.
Stasiun demi stasiun, kamu tidak berani turun dari kereta.
Kamu seharusnya tidak turun di sini. Hujan tidak turun hari ini tapi Bogor dingin. Kereta berhenti. Orang-orang berhamburan keluar kereta. Tanganmu masih menggenggam handel untuk penumpang yang berdiri. Gerbong mulai kosong, pikiranmu ikut kosong. Ada keinginan deras untuk menangis dan kamu tidak bisa menahannya.
Lihat? Lihat dirimu sendiri. Kamu berdiri di gerbong kereta yang kosong, mengangisi sepi sejadi-jadinya. Kamu ingin duduk tetapi emosimu menahannya. Rasa sakit dari emosi itu menjalar ke seluruh tubuh, timbul tenggelam. Di dadamu. Di jemarimu. Di lututmu yang kelelahan.
“Kamu siapa?”
Kamu terhenyak, mundur selangkah.
Gerbong kosong kecuali kalian berdua. Dia sudah berdiri persis di depanmu. Kusut. Kelelahan. Kamu tidak bisa menebak-nebak wajahnya, apakah ia marah atau bingung.
“Kenapa nangis?”
Kamu ingin sekali lagi melakukannya. Kamu mendadak memeluknya, membenamkan wajahmu yang basah ke bahunya.
Satu detik.
Dua detik.
“Ima?”
Dia memegang kedua bahumu, melepaskan pelukan. Wajahnya terperangah setengah senyum. Dia tidak bisa menyembunyikannya. Sementara kamu tidak bisa tidak tersenyum juga.
Itu sudah cukup. Pelukan itu sudah cukup. Fakta bahwa dia masih mengingat namamu, masih mengingat pelukan lama, itu sudah cukup. Kenangan itu benar-benar ada. Kamu ingin berkata-kata, tentang maaf dan sebagainya namun batinmu terlalu bergetar. Kamu melangkah mundur, turun dari kereta dan berlari meninggalkan dia.
Setelah keluar dari stasiun, kamu berjalan tak tentu arah, merenungkan banyak hal, mengingat banyak hal. Kenangan-kenangan masa kecil itu sekarang begitu nyata, begitu kuat. Kamu merasa ada alasan tambahan untuk terus melanjutkan hidupmu.
Cukup sudah. Terima kasih. Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan esok. Kamu menghapus air matamu.
Selesai
>> Home