Untukmu, Untuk Kita Semua

Date: 2016/08/05
Categories: blog

Seiring waktu berjalan, saya belajar tentang banyak hal. Hanya saja saya belum berkarya sebanyak apa yang saya pelajari. Saya melakukan hal-hal yang saya senangi, menggarap proyek-proyek kecil dan menantang, mengekplorasi tren baru, namun setelah nyaris jadi, semuanya tidak terlalu berguna. Iterasi ini sempat mencapai titik jenuh, membuat saya nyaris bosan mengetik kode dan memaksa mencari-cari masalah secara sengaja.

Saya memulainya dengan prototype kasar dan setengah tidak yakin. Mengapa? Karena saya pesimis dan beranggapan bahwa yang menganggap masalah ini adalah sebuah “masalah” hanyalah saya sendiri, atau saya tidak menemukan orang lain yang sepikiran.

Setidaknya belum, sampai saya secara tidak sengaja bertemu mereka yang menamakan diri mereka Letsgonesia, dua anak muda yang sama bingungnya dengan saya. Syukurnya kami bertiga sepaham dan saya rela merombak prototype yang ada demi mereka. Kami menyusun ulang strategi memancang tujuan utama yang muluk-muluk dengan yakin dan kembali tersentak oleh kenyataan, betapa tidak mudahnya semua ini. Masih mimpi? Iya. Bagaimana kami akan mencapainya?

Satu dari semilyar masalah

Jadi dari mana kita mulai? Mulailah dari sebuah masalah. Tidak penting masalah itu sepele atau tidak. Besar atau kecil. Bagian paling sulit barangkali mempertahankan argumen kita dari orang-orang di sekitar kita, terutama yang menganggap ide kita sepele atau tidak menyakinkan. Mereka tidak selalu harus dihindari dan kita tidak selalu harus dimanja oleh dukungan serta pujian.

Yang terpenting solusinya harus memberi manfaat nyata bagi orang lain. Kedua, ada passion dan semangat kita yang tertanam pada solusi yang ingin kita bangun. Ketiga? Mari kita bicara soal bisnis.

OK!

Startup berbeda dengan korporasi, dimana kamu membutuhkan izin ketat (yang kadang-kadang berantai) untuk melakukan ini dan itu. Setiap individu pada tim startup dituntut untuk inisiatif mencari solusi-solusi kreatif ketimbang “menunggu perintah”. Kerasa demokrasinya? Asyik. Ragu nanti malah bikin kesalahan? Hmmm. Tidak perlu takut dan mungkin perlu sedikit sok-sokan. Nyatakan, lakukan, kemudian minta maaf belakangan. Kamu harus membiarkan individu lain melakukan hal yang sama. Kalau terlalu mulus, tidak gagal atau terantuk batu, kita perlu heran. Setidaknya perlu satu kegagalan untuk belajar tentang rasa takut. OK, sikat!

Kontribusi, Ujung Tombak Kolaborasi

Ada rasa semangat dan kebebasan tersendiri yang hinggap ketika kamu bekerja dekat dengan orang-orang yang sepaham denganmu, terutama di coworking space. Ada ide-ide yang lewat jumpalitan kemudian lekas lenyap. Kita bisa menangkapnya sebelum hilang ditelan waktu dan menyatakannya secara langsung pada tim kita atau bahkan mendebat ide mereka habis-habisan. Tidak ada yang salah dengan itu. Semuanya (mudah-mudahan) bakal damai kembali saat semangat kolabarasi kembali tersulut. Kamu harus merasakan menjadi bagian darn kumpulan orang-orang yang sevisi, bersemangat dan saling berebutan untuk berkontribusi ke produk yang ingin mereka ciptakan.

Bukan Kunto Aji

Nyatanya kamu tidak sendirian. Ada banyak kelompok lain yang sedang berjuang menelurkan solusi bagi umat manusia. Bahkan, sampai di titik tertentu, kamu perlu bersaing dengan mereka. Kita bisa belajar dari mereka dan mengulurkan tangan untuk mereka yang lain. Kekuatan komunitas yang didukung teknologi internet kadang-kadang tak terbayangkan, bukan? Salah satunya? #1000startupdigital.

Hal-hal di atas saya dapatkan dari sesi Ignition yang mencerahkan di #1000startupdigital yang kini menjadi fondasi Letsgonesia untuk terus berkembang dan memberi manfaat untukmu, untuk kita semua. Terima kasih untuk pendiri-pendiri startup atas kesediaannya untuk berbagi!



>> Home