Awalnya saya berpikir bahwa saya tidak akan sempat mengikuti openSUSE Asia Summit 2026 yang akan diselenggarakan di Yogyakarta dikarenakan saya cukup kewalahan mengurus BlankOn, baik proyek maupun yayasannya, masih banyak sekali permasalahan yang harus diselesaikan. Namun beberapa orang mendorong saya untuk ikut serta. Persamaan mereka adalah mereka membawa kata-kata “reuni”, yang membuat saya berpikir ulang.
Tidak banyak yang bisa saya bawakan ke sesi acara oSAS26 kecuali mungkin pemikiran dan perhatian saya selama beberapa tahun ke belakang tentang komunitas. Mungkin teman-teman bisa berangkat dari tulisan ini untuk memahami apa yang saya pikirkan: https://aguno.xyz/post/2025/01/05/community/.
Saat BlankOn Foundation mendapat sedikit pendanaan lagi saat itu, beberapa orang mengusulkan supaya BlankOn Foundation dan GNOME ID turut serta mendukung oSAS26, yang mana segera kami sambut. Tetapi ternyata urusan ini berbuntut panjang: yaitu kami mendapatkan booth dan saya tidak tahu booth itu mau diisi apa. Saat itu BlankOn tidak punya apa pun untuk ditunjukkan dan tidak punya produk. BlankOn Linux Sinambung bahkan belum rilis dan masih tidak tahu arahnya ke mana.
Ngomong-ngomong, openSUSE Asia Summit 2026 terselenggara dengan meriah. Saya rasa acara tersebut berhasil memenuhi ekspektasi orang-orang. Terlalu banyak yang bisa diceritakan.
Namun tulisan kali ini saya ingin bercerita lebih banyak terkait apa yang kami (rekan-rekan di BlankOn Foundation dan GNOME ID) lakukan terkait booth tersebut. Saat kita mengelola booth di sebuah event, biasanya tujuannya ada beberapa, seperti:
- Brand recognition dan marketing
- Product or campaign demonstration
- Engagement, including gathering customer feedback.
Namun mempromosikan brand tanpa produk rasanya janggal. Saat itu visi saya mengenai kapan BlankOn Linux akan rilis itu masih kabur.
Indonesia Linux Gaming
1-2 tahun belakangan saya dan Sendy aktif ngoprek gaming di Linux dari waktu ke waktu, sampai kami iseng bikin komunitasnya di Telegram yang selama berbulan-bulan isinya cuma berdua saja. Silakan bergabung melalui link ini: https://t.me/IndonesiaLinuxGaming

Karena Sendy berpikir untuk submit topik tentang Linux Gaming, jadi kami ngide barangkali bisa bawa tema “Celebrating Linux Gaming” untuk mengamplifikasi topik tersebut sebagai campaign di booth.
Kebetulan selama setahun belakangan ini keluarga saya menggunakan mini PC kecil sebagai console di ruang keluarga. Berikut adalah cuplikan video bagaimana mini PC tersebut digunakan selayaknya console gaming seperti PS5: https://www.youtube.com/shorts/-GW9oixYowI . Dan berikut ini adalah skrip yang memungkinkan mini PC tersebut bertingkah seperti console pada umumnya: https://gist.github.com/herpiko/bf3e7bb728dfb39a02c44b6482ae8da2 . Mungkin saya bisa memasukkan PC ini ke ransel atau koper saya selama di perjalanan, tidak masalah.
Saya menguji ide tersebut dengan mempersiapkan Linux Gaming corner di meetup deklarasi JKTLUG dan Debian Day Jakarta 2026, supaya orang-orang dapat mencoba bermain gim di Linux. Lalu mengambil beberapa pelajaran tentang bagaimana membangun engagement dengan audience.

Kesimpulannya, PC console tersebut masih belum cukup untuk membangun engagement dan rasa penasaran orang-orang tentang Linux Gaming.
Saya perlu berpikir lebih keras.
Sim Racing
Idenya adalah menunjukkan lebih banyak terkait hal-hal yang dulu tidak bisa dilakukan di Linux. Karena salah satu hobi saya adalah sim racing ( https://www.instagram.com/p/DFLZ3laTjZQ/ ), saya mencari tahu ke situ dulu. Saya waktu itu juga tidak tahu apakah sim racing lancar di Linux, jadi saya harus mencobanya. Kemudian saya mendapati Logitech G29 ternyata sudah sangat lancar di Linux berkat 2 proyek ini:
- https://github.com/berarma/new-lg4ff - Driver baru untuk setir mainan Logitech.
- https://github.com/berarma/oversteer - Aplikasi untuk mengkonfigurasi setir mainan Logitech.
Yang lebih mengejutkan lagi, Bazzite, salah satu distro khusus gaming, sudah memaketkan new-lg4ff secara khusus. Jadi tinggal plug and play.
Setelah memastikan lancar, saya bernegosiasi kepada panitia oSAS26 supaya saya bisa mendapatkan meja yang lebih kokoh untuk menahan setir Logitech ini.
Pikiran untuk menyiapkan full experience untuk sim racing saya coba buang jauh-jauh, karena membawa simulator rig komplit yang beratnya lebih dari 120kg itu adalah logistic nightmare.

Saya cukup membawa unit wheelbase yang dulu dibangun oleh teman-teman engineer dan saya di tim RSR ( https://repas-sim-racing.github.io/ ), untuk menunjukkan bahwa ada firmware open source ( https://github.com/Ultrawipf/OpenFFBoard ) yang bisa kita gunakan untuk membangun wheelbase DIY dan juga bisa jalan di Linux. PS: Setelah berjalan 2 tahun, saya tidak lagi melanjutkan bisnis di RSR karena alasan sustainability.
Selebihnya, kita tunjukkan saja bahwa Logitech G29 ini lancar digunakan di Linux, itu harusnya sudah cukup.
Dan tentu saja, barang bawaan juga jadi bertambah. 1 kardus besar berisi paket lengkap Logitech G29 mungkin masih oke buat dibawa ke pesawat.
VR
Setelah melihat istri saya yang rutin pakai VR untuk berolahraga, saya jadi kepikiran untuk mendemokan VR juga, jadi saya perlu membujuknya juga supaya mau meminjamkan VR dan seperangkat PC gamingnya.
Tapi apakah VR jalan di Linux? Sekali lagi Bazzite menang di sini. Di BlankOn Linux, Ubuntu dan openSUSE, masih terkendala. Hambatannya ada di driver grafis yang fitur encoding/streamingnya didisable. Solusi ini pernah bekerja dengan dukungan paket dari Packman, namun saat dicoba, Packman sedang bermasalah. Di Bazzite, semua langsung berjalan lancar begitu saja tanpa harus diapa-apakan.
Sebelumnya, bahkan di Windows, urusan menghubungkan perangkat VR dengan PC ini cukup ribet. Kita harus memasang aplikasi pendamping bawaan perangkat VR di PC tersebut, dan aplikasi tersebut tidak mendukung Linux. Setelah terpasang, barulah kita dapat menghubungkannya, baik dengan kabel (yang sangat panjang tentunya) atau wifi. VR Gaming di Linux menjadi lebih mudah setelah Valve meningkatkan kualitas Steam Link dan mempublish Steam Link untuk perangkat VR seperti Pico 4 yang digunakan istri saya.
Valve membangun abstraksi yang solid untuk membuat penghubung antara PC dan perangkat VR.

Namun tantangannya juga bertambah menjadi 4:
- Saya harus negosiasi lagi dengan panitia oSAS26 untuk bisa mendapatkan ruang lebih di booth supaya bisa menggelar tempat untuk VR ini.
- Beban logistik menjadi bertambah juga. Barang bawaan menjadi semakin banyak. Saya perlu memikirkan moda transportasi selain pesawat.
- Saya tidak mungkin mengurus semua ini sendirian, saya perlu tim yang solid dan high agency. Selain harus dapat mengoperasikan semua perangkat ini, mereka juga perlu menjaga perangkat-perangkat tersebut.
- VR dengan kabel membutuhkan logistik yang lebih besar, seperti tiang untuk menggantungkan kabel tersebut. VR dengan wireless membutuhkan environment yang bebas hambatan.
VR wireless juga ada tambahan logistik, meskipun lebih sedikit, urusannya lebih ribet karena harus memastikan koneksi wireless tersebut tidak terganggu oleh komunikasi di jaringan tersebut, dan juga oleh gangguan frekuensi dari luar jaringan.
Saya merancang topologinya seperti berikut. Logistik lebih kecil secara volume, namun sangat banyak dan kecil-kecil.

Saya dan istri saya menyewakan perangkat VR ini dari waktu ke waktu untuk tambahan penghasilan. Resikonya biasanya perangkat VR-nya kembali dengan bau keringat dan berwarna lebih cokelat wkwkwk. Resiko ini bisa dipahami dan kami bisa mencuci ulang foamnya setelahnya.
Namun karena perangkat VR-nya akan digunakan oleh banyak orangg secara bergantian dalam waktu yang sangat berdekatan, jadi kami menyiapkan disposable mask khusus VR, untuk melindungi kedua belah pihak agar tetap steril, baik VR maupun pengunjung yang ingin mencoba.

Handled
Saya dan Sendy akan membawa Steam Deck kami, untuk menunjukkan dari mana Linux Gaming ini mulai berprogress secara signifikan. Lagi-lagi saya perlu menyakinkan istri saya bahwa kami bisa menjaga perangkat-perangkat ini.
Barangkali kita bisa berjumpa dengan pengguna Steam Deck yang lain, haha.
BlankOn Linux Sinambung
Sialnya, menjelang oSAS26, aroma rilis BlankOn Linux sudah mulai tercium berkat kontribusi teman-teman di tim pengembangan. Kami bahagia bisa rilis, tapi ini juga menambah tekanan ke persiapan logistik.

Kami juga perlu minta meja lagi ke panitia oSAS26 khusus untuk mempromosikan Blankon Linux.
Tantangan Logistik
Saat Sistiandy mengusulkan untuk pakai mobil dan gantian menyetir, saya rasa itu ide yang bagus. Lebih mudah mengawal barang-barang ini. Lebih mudah juga untuk load dan unload barang dari penginapan ke lokasi acara apa bila ada kendaraan yang didedikasikan untuk ini.

Ada faktor kehati-hatian juga di sini seperti GPU perlu dilepas dari PC saat sedang dalam transportasi.
Saya membayangkan bagaimana mensimulasikan couch gaming yang nyaman di booth. Artinya saya perlu TV yang besar dan kursi yang nyaman. Atas bantuan Aji Kisworo Mukti aka Cengkaruk, kami berhasil mendapatkan pinjaman TV yang benar-benar besar dengan warna yang jernih. Lalu kami mencoba menyewa beberapa kursi puff dari usaha penyewaan lokal di Jogja supaya pengunjung bisa duduk dengan santai saat bermain gim.

Banyak juga yang perlu kami persiapkan seperti macam-macam sticker, x-banner, alas pijakan kaki untuk VR, stand mini banner, dan lain-lain.

Tim
Tim adalah faktor paling penting di urusan ini. Syukurnya, banyak sekali teman-teman yang mau bergabung dan membantu, baik untuk mempersiapkan maupun menjaga booth secara bergantian, antara lain:
- Sendy
- Sistiandy
- Firman
- Amir
- Shaella Tan
- Ahmad Hakim
- Lucky
- Atqa
- Dzakwan
- Deni (jauh-jauh datang dari Lombok dengan seorang rekannya)
- Dan mungkin ada lagi yang saya lupa (maap)
Terima kasih banyak!
Perjalanan
Tim booth berangkat dengan moda transportasi dan waktu tempuh/tiba yang berbeda-beda, namun pada akhirnya kami dapat berkumpul bersama-sama di acara. Buat saya pribadi, ini pertama kalinya saya mencoba menyetir jarak jauh, memang butuh stamina yang tidak main-main.

Gladi resik
Saat panitia oSAS fokus gladi resik, kami mendapatkan waktu sekitar 2-3 jam saja untuk gladi resik. Kami mencoba mensimulasikan untuk merakit semua perangkat, menguji coba perangkat, melatih teman-teman untuk dapat mengoperasikan semua perangkat, sambil menyusun rencana dan kisi-kisi bagaimana menghadapi pengunjung.
Jaringan lokal untuk VR yang disimulasikan di day 0:

Simulasi ini ternyata cukup melelahkan tetapi setidaknya memberikan gambaran tentang stamina yang perlu disiapkan untuk besok.
Day 1

Hari pertama sangat ramai dan melebihi ekspektasi kami. Saya rasa kami berhasil mencapai target engagement dengan pengunjung.

Lubos Kocman dari SUSE bahkan berkunjung dan menjalin diskusi dengan tim BlankOn Linux.

Cuplikan gambar dari video dari Day 1 Highlight yang mencakup keseluruhan booth BlankOn Foundation dan GNOME ID.

Day 2

Hari kedua tidak seramai hari pertama, namun tidak menghentikan antrian orang-orang yang ingin mencoba game di Linux. Tapi setidaknya situasi ini mengizinkan kami berjejaring dan reuni dengan orang-orang di acara. Saya bertemu banyak orang, sempat berfoto dengan beberapa di antaranya:
Pak Sokibi, mantan kontributor BlankOn Linux di tim Dokumentasi

Pak Faiq, mantan kontributor BlankOn Linux di tim Dokumentasi

Pak Fadil, mantan kontributor BlankOn Linux di tim Infrastruktur

Pak Aftian, mantan kontributor BlankOn Linux, saya tidak yakin dengan pak Aftian itu di tim mana karena beliau palugada tudemax. He is the legendary mahadev.

Kemudian bertemu juga dengan beberapa mantan kontributor BlankOn Linux generasi lama lainnya.

Sebagian dari tim booth sempat berfoto dengan Pak Rusmanto

Bongkar pasang booth di hari kedua berjalan sangat lancar karena kami sudah mengklaim pengalaman yang cukup dari gladi resik dan day 1. Dari semua barang logistik yang banyak sekali ini, semuanya aman tanpa kerusakan maupun kehilangan.
Pulang

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak di Semarang untuk bertemu dan berdiskusi dengan aktivis open source di kota Semarang.

Terima kasih
Terima kasih kepada panitia oSAS26 dan komunitas openSUSE ID yang memberikan pengalaman ini untuk kami. Terima kasih juga kepada seluruh donatur, sponsor dan rekan-rekan di komunitas yang telah memberikan dukungan kepada kami dalam berbagai bentuk yang memungkinkan kehadiran kami di oSAS26.
Semua dukungan tersebut memberikan pengalaman yang sulit dilupakan bagi kami, dan mudah-mudahan kontribusi kami dapat memberikan pengalaman yang serupa untuk yang lain.
Hampir terlupa, ucapan terima kasih saya tujukan juga untuk Lord Gaben, engineer-engineer jeinus yang dihire oleh Valve, dan kontributor-kontributor open source pada umumnya yang memungkinkan pengalaman Linux Gaming di tahun ini terasa sangat berbeda.
>> Home